Pelatihan ini melatih warga nagari agar bisa mengurus sendiri jaringan internet dan alat pemantau bencana di kampungnya. Kegiatan diadakan Smart Learning Center "Medan Nan Balinduang" bersama Konsorsium Basamo, yaitu Universitas Negeri Padang, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Terbuka, dan Universitas Negeri Yogyakarta, dengan sasaran Nagari Koto Tangah, Pangian, dan Tanjung Haro Sikabu-kabu Padang Panjang.Bahan bacaannya adalah Modul Ajar Infrastruktur Digital dan IoT sebanyak 156 halaman, yang terdiri atas lima bab. Modul bisa dibaca sebelum pertemuan, dan tetap berguna sesudahnya sebagai pegangan saat bertugas di lapangan.PERTEMUAN 1. PENGANTAR PELATIHAN KADER DIGITAL NAGARI.Mengapa program ini diadakan, yaitu tiga masalah yang saling mengikat berupa jaringan yang masih terbatas, warga yang belum akrab dengan teknologi, dan daerah yang rawan banjir serta longsor. Alasan pemilihan tiga nagari sasaran, dan fungsi Smart Learning Center sebagai tempat belajar bersama yang tidak berhenti setelah program selesai. Tugas kader digital, meliputi tiga peran utama yaitu melek digital, berbagi ilmu, dan melayani nagari, ditambah empat tanggung jawab teknis di lapangan. Kemampuan dan sikap kerja yang perlu dimiliki kader. Pengenalan aplikasi BASAMO beserta layanannya, yaitu kelas digital, perpustakaan digital, forum diskusi, dan dashboard pemantauan, termasuk cara menjaga keamanan data warga. Hasil yang ingin dicapai program dalam jangka panjang. Bacaan: subbab 1.1 halaman 1 sampai 9, subbab 1.3 halaman 17 sampai 23, dan subbab 1.4 halaman 24 sampai 30.PERTEMUAN 2. SINYAL DAN JARINGAN SEBAGAI PENOPANG NAGARI CREATIVE HUB.Pengertian nagari cerdas dan Nagari Creative Hub beserta empat pilarnya, yaitu literasi digital, konten kreatif, ekonomi digital, dan pariwisata nagari. Sebab teknologi baru sering lambat diterima di desa dan cara mengatasinya. Lima bagian yang membentuk sistem telekomunikasi. Arti frekuensi, panjang gelombang, modulasi, dan lebar pita dalam bahasa sederhana. Cara kerja jaringan HP, mulai dari HP, menara pemancar, sampai pusat jaringan, termasuk pembagian wilayah menjadi sel dan perpindahan sinyal ketika kita bergerak. Perbedaan jaringan 2G sampai 5G. Cara kerja WiFi pada pita 2,4 GHz dan 5 GHz serta bedanya dengan jaringan HP. Sebab sinyal melemah di daerah berbukit, yaitu terhalang bukit, memantul, dan adanya daerah bayangan. Cara memperbaiki penerimaan dengan antena, dan pilihan lain bagi daerah yang benar-benar sulit dijangkau. Bacaan: subbab 1.2 halaman 10 sampai 16 dan subbab 2.1 halaman 31 sampai 40.PERTEMUAN 3. ALAT PEMANTAU BENCANA DAN NAGARI CERDASPengertian IoT dan empat lapisannya, yaitu alat di lapangan, pengumpul data atau gateway, jaringan pengirim, dan aplikasi tempat data ditampilkan. Perjalanan data dari sungai dan lereng sampai muncul di HP kader. Cara kerja tiap alat ukur, yaitu penakar hujan, pengukur tinggi muka air, pengukur getaran tanah, pengukur keasaman air, dan pengukur kepekatan zat terlarut. Bagian penopang berupa panel surya, baterai, dan kotak pelindung. Penyetelan ulang alat agar angkanya tetap benar, penetapan batas aman sebagai dasar munculnya peringatan, pemilihan tempat pemasangan, dan cara menyaring bacaan yang mengganggu. Pengiriman data lewat gateway dan kartu SIM, apa yang terjadi bila sinyal hilang, cara menghemat daya, dan cara menjaga alat dari gangguan pihak lain. Praktik mengenali bagian fisik alat di tiang, masuk ke dashboard, membaca grafik dan warna status, memeriksa alat sedang tersambung atau tidak, serta tiga tingkat peringatan yaitu Waspada, Siaga, dan Awas beserta tindakan yang harus diambil pada masing-masing tingkat. Ditutup dengan latihan simulasi dan penyusunan rencana kerja kader. Bacaan: Bab III halaman 60 sampai 94.PERTEMUAN 4. MENGUKUR KUAT LEMAHNYA SINYALSebab jumlah batang sinyal di layar HP tidak cukup untuk dipakai melapor, karena setiap merek HP menghitungnya dengan cara berbeda. Angka yang diukur, yaitu kuat sinyal RSRP dalam dBm, bersih atau tidaknya sinyal melalui RSRQ dan SINR dalam dB, kecepatan unduh dan unggah dalam Mbps, waktu tunggu dalam ms, dan banyaknya data yang hilang di jalan dalam persen. Alasan pemakaian satuan desibel. Hal yang membuat sinyal melemah, mulai dari jarak, penghalang, sampai jam sibuk. Empat cara mengukur, yaitu membaca lewat menu pengaturan HP, memakai aplikasi Network Cell Info Lite, memakai aplikasi Speedtest, lalu mencatat hasilnya pada tabel yang sudah disediakan modul. Aturan mengukur agar hasilnya dapat dipercaya, yaitu diulang beberapa kali, titik ukurnya mewakili keadaan, dan keadaan saat mengukur dicatat. Keselamatan diri saat mengukur di lapangan. Cara membaca hasil, yaitu menghitung rata rata dan sebarannya, membedakan masalah jangkauan dari masalah gangguan sinyal, menyusun peta sinyal nagari, dan melaporkan hasilnya kepada pihak terkait. Bacaan: subbab 2.2 halaman 41 sampai 50 dan subbab 2.3 halaman 51 sampai 59.PERTEMUAN 5. MERAWAT ALAT DAN MELAPORKAN KERUSAKANPerawatan sebelum alat rusak, meliputi membersihkan sensor, memeriksa kabel dan sumber listrik, memperbarui perangkat lunak alat dan perangkat jaringan, memantau kondisi alat, dan menyimpan salinan pengaturan. Perbaikan setelah alat rusak beserta lima langkahnya, mulai dari mengenali gejala, mencari penyebab, memperbaiki, menguji ulang, sampai mencatat hasilnya. Cara melaporkan kerusakan, meliputi jenis jenis gangguan, tujuh langkah dari menemukan sampai menutup laporan, hal yang wajib ada dalam catatan laporan, cara memberi nama berkas agar riwayat alat mudah ditelusuri, cara mencari akar penyebab, dan cara menentukan gangguan mana yang ditangani lebih dulu. Tindakan bila kerusakan tidak dapat diselesaikan sendiri, yaitu tiga tingkat penerusan masalah dari kader, teknisi, sampai pembuat alat, beserta batas waktu penanganan pada setiap tingkat. Cara belajar dari kejadian agar kerusakan yang sama tidak terulang. Bacaan: subbab 4.1 halaman 95 sampai 104, subbab 4.3 halaman 113 sampai 121, dan subbab 4.4 halaman 122 sampai 131.BAGIAN MODUL YANG DIBACA SENDIRIDua bagian modul berikut belum memiliki pertemuan tersendiri, sehingga peserta dianjurkan membacanya secara mandiri. Subbab 4.2 halaman 105 sampai 112 membahas radio komunikasi HT, meliputi cara bicara bergantian dengan menekan tombol, kelebihan HT karena tetap hidup meski jaringan umum mati, aturan hukum pemakaian frekuensi, tata cara berbicara di radio, dan perawatan perangkatnya. Bab V halaman 132 sampai akhir memuat rangkuman seluruh materi dan rencana kerja kader, yang dirinci menjadi kegiatan harian, mingguan, bulanan, dan kegiatan lanjutan tiga sampai dua belas bulan.HASIL YANG DIHARAPKANSesudah mengikuti semua pertemuan, peserta diharapkan bisa menjelaskan cara kerja sinyal HP dan WiFi, mengukur kekuatan sinyal serta mencatat hasilnya, membaca dashboard beserta tanda bahayanya, merawat alat pemantau agar tidak cepat rusak, dan membuat laporan kerusakan yang jelas sehingga cepat ditindaklanjuti.SIAPA YANG BOLEH IKUTPelatihan terbuka bagi calon kader digital, teknisi dan perangkat nagari, anggota kelompok siaga bencana, serta warga yang tertarik. Tidak perlu pernah sekolah teknik.